BATANG - Pegiat Literasi Batang memulai kegiatan penelitian, dengan keluaran sebuah buku dan film dokumenter untuk penyelamatan Batik Rifaiyah. Rangkaian kegiatan dimulai dengan sebuah workshop sejarah dan budaya bertajuk Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifaiyah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu 29 April 2026 di Kedai Joglo Mberan, Kabupaten Batang.
Langkah ini sebagai pondasi awal untuk penelitian, penulisan buku, dan produksi film dokumenter dengan tema, Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifaiyah, Tradisi 166 Tahun yang Terancam Punah. Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana dan LPDP.
Workshop mempertemukan para perajin, pegiat sejarah, budaya, hingga pemerintah daerah untuk membahas strategi pelestarian Batik Rifaiyah yang kini dinilai berada di titik rawan akibat minimnya regenerasi pembatik dan hilangnya sejumlah motif lama. Narasumbernya adalah Tokoh Masyarakat & Pembatik Rifaiyah, Miftakhutin, S.Pd.I dan Bunda Literasi Kabupaten Batang, Faelasufa, S.IP., MPP.
Materi pertama disampaikan oleh Miftakhutin dengan tema, Membaca Pesan Tersembunyi dan Sejarah Ratusan Tahun Tradisi Batik Rifaiyah. Tema tersebut membahas, jejak sejarah dan nilai spiritual. Seperti, asal-usul Batik Rifaiyah dan kaitannya dengan ajaran KH Ahmad Rifa’i.
Lalu, berkaitan dengan karakteristik dan filosofi yang membedah makna di balik motif-motif khas Batik Rifaiyah (seperti motif Pelo Ati, Ila Ili, dll) dan teknik pembuatannya. Serta realita krisis regenerasi, tentan gambaran kondisi perajin saat ini dan faktor utama yang menyebabkan tradisi ini terancam punah.
Materi kedua disampaikan oleh Faelasufa yang membahas tentang upaya penyelamatan batik Rifaiyah. Seperti, pandangan terkait kondisi tradisi batik Rifaiyah yang sedang dalam ancaman kepunahan. Serta strategi penyelamatan, berupa gagasan, inovasi, atau peran strategis apa yang bisa diambil oleh anak muda, pemerintah, dan pihak swasta agar Batik Rifaiyah dapat bertahan dan relevan di era modern.
Miftakhutin, mengaku bersyukur atas dukungan berbagai pihak terhadap keberlangsungan batik khas Rifaiyah tersebut.
“Ini adalah sebuah support system yang sangat bagus untuk kemajuan batik Rifaiyah di masa mendatang. Karena kita tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa maju sendiri. Dukungan dari Ibu Literasi dan Ibu Bupati memberikan semangat baru bagi teman-teman agar bisa terus berkarya lebih baik," kata Miftakhutin.
Menurutnya, dukungan dari luar yang dibarengi penguatan internal komunitas menjadi modal penting untuk menjaga semangat para pembatik agar tetap bertahan dan terus memproduksi Batik Rifaiyah.
“Ke depan kami ingin tetap mengonsolidasikan teman-teman agar terus semangat membatik Rifaiyah. Jadi dukungan dari luar dan kekuatan dari dalam komunitas bisa berjalan beriringan,” ungkapnya.
Sementara itu, Faelasufa Faiz, menilai Batik Rifaiyah memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat kuat. Ia menjelaskan, Batik Rifaiyah memiliki keunikan tersendiri karena proses pembuatannya dilakukan sambil melantunkan selawat dari awal hingga akhir pengerjaan.
“Batik Rifaiyah ini unik sekali. Walaupun usianya sudah lebih dari 100 tahun, namun baru mulai diperjualbelikan secara umum sekitar tahun 2010-an. Jadi sebenarnya usia keberadaannya di pasar masih sangat muda,” ucap Faelasufa.
Namun di balik keunikannya, Batik Rifaiyah kini menghadapi ancaman serius. Dari sekitar 24 motif yang pernah ada pada awal tahun 2000-an, kini tersisa sekitar 16 motif saja.
Menurut Faelasufa, hilangnya sejumlah motif disebabkan para pembatik sepuh yang menguasai motif-motif tersebut telah meninggal dunia tanpa adanya penerus.
“Waktu kami dokumentasikan tahun lalu, motif yang ditemukan tinggal 16. Ini menjadi concern kami di Dekranasda karena kalau tidak segera dijaga, risikonya Batik Rifaiyah bisa punah,” tuturnya.
Ia menyebut ke ikut sertaan dalam pameran membutuhkan biaya besar, namun dianggap penting untuk meningkatkan nilai ekonomi Batik Rifaiyah agar generasi muda tertarik menjadi pembatik.
“Kalau nilai ekonominya naik, anak-anak muda akan merasa bahwa membatik juga bisa membuat mereka sejahtera,” jelasnya.
Faelasufa juga mendorong komunitas Batik Rifaiyah agar lebih terbuka terhadap regenerasi. Termasuk memberi kesempatan kepada masyarakat di luar komunitas Rifaiyah untuk belajar membatik.
“Kalau ada yang non-Rifaiyah ingin belajar membatik Batik Rifaiyah, menurut saya tidak apa-apa. Harus lebih terbuka dan adaptif. Kalau tidak, risiko kepunahannya semakin besar,” tegasnya.
(Pegiat Literasi Batang)
